Jumat, 04 November 2011

CERPEN "SENYUM DAN AIR MATA"


Senyum dan Air Mata
Tidak pernah mengeluh, tidak pernah menuntut itulah seorang wanita tua renta yang hidupnya selalu dalam kesusahan. Dalam keadaan sesusah apapun dia tetap tersenyum tidak ada rasa takut dalam hal rezeki, Aminah seorang nenek tua yang suka menolong hidupnya sebatang kara tidak ada sanak saudara di sekelilin tetapi semua tetangganya mengganggapnya sebagai emak yang baik hati dan suka menolong. Berpenghasilan dengan membuat tempe cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, bahkan untuk membantu orang lain.
Karena kebiasaannya yang suka menolong sehingga tetangga di sekitarnya sayang padanya. Bagi Aminah langkah, Rezeki, Pertemuan, dan maut itu sudah di tentukan oleh Allah jadi dia ttidak pernah takut dirinya kekurangan jika membantu orang lain. Karena baginya selagi mata masih terbuka, nafas masih berhembus rezeki akan terus mengalir asalkan mau untuk berusaha.
Dulu Aminah adalah orang yang lumayan hidupnya, orang tua yang berada, anak satu-satunya tentu hidupnya enak. Tetapi, hal itu tidak membuatnya sombong. Wajahnya yang cantik membuat banyak pria tertarik padanya. Hingga pada sutu saat ada seorang pemuda yang mempersuntingnya dan akhirnya dia menikah dengan pria itu, Darto namanya. Setelah menikah Aminah di bawa pergi oleh suaminya ke suatu daerah yang sangat jauh dari orang tuanya tentu hati Aminah sangat sedih harus meninggalkan orang tuanya dan orang tua yang harus kehilangan anak satu-satunya itu menangis saat kepergian Aminah anak semata wayangnya.
Demi suaminya Aminah harus rela meninggalkan orang tua. Sampai-sampai pada saat orang tuanya meninggal Aminah tidak tahu. Kehidupan nya berubah drastis setelah menikah, Darto suaminya yang dianggap baik ternyata tidak seperti yang di bayangkan. Aminah selalu mendapatkan perlakuan kasar dari sang suami.
Sejak awal perkawinan kehidupanya tidak pernah bahagia dia selalu mendapatkan perlakuan kasar. Sudah lima belas tahun usia perkawinan Aminah sekarang mereka sudah mempunya emapat orang anak. Dika, Budi, Dani dan Sinta namanya, namun sifat Darto tidak berubah. Hingga akhirnya Darto benar-benar meninggalkan Aminah dan anak-anak. Aminah pun mengurusi anak-anaknya  seorang diri
Rasa sedih yang mendalam membuatnya hilang arah, seakan tidak sanggup. Namun, demi anak-anaknya Aminah tetap tersenyum walau duka menyelimuti di tinggal suami yang kawin lagi. Sejak di tinggalkan suaminya Aminah bekerja seorang diri untuk memberi nafkah pada anak-anak yang ada  padanya. Kerja serabutanpun ia lakukan demi mendapatkan upah untuk makan anak-anaknya. Dari membajak sawah milik juragan sawah, mencuci pakaian tetangga, sampai-sampai pekerjaan yang tidak layak di kerjakan oleh seorang wanita tetapi tetap di lakukannya selama itu halal untuk anak-anaknya.
Setahun kemudian anak-anaknya di ambil oleh Darto, kini Aminah tinggal sendiri. Tidak ada lagi harapan, Aminah seperti orang yang kehilanga arah dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan tanpa anak-anaknya. Karena ia bekerja hanya untuk anak-anaknya kini anak-anaknya sudah di ambil oleh suaminya.
Sekarang, 20 tahun telah berlalu. Sudah renta, hidup sebatang kara dalam gubuk reok yang sudah tidak layak huni namu Aminah tetap bertahan menghabiskan sisa hidupnya dengan harapan suatu saat anak-anaknya akan kembali padanya. Sakit-sakitan, tidak sekuat dulu sendirian dalam gubuk tua saksi sejarah hidup. Dalam hatinya miris berdo’a “Tuhan! Aku memang tidak bisa memberikan materi pada anak-anak ku, tapi, apakah kasih sayang yang aku punya untuk mereka itu kuran tuhan? Sadarkanlah anak-anakku, bukakanlah pintu hati mereka tentang wanita tua renta dalam gubuk derita ini tuhan yang butuh kehangatan cinta dari anak-anaknya”. Air mata mengalir, dada terasa sesak mengingat semua yang telah terjadi. Ada sesal, amarah dan rasa menuntut keadilan. Namun, dalam sepi yang hanya ditemani lampu minyak yang remang tetap berdzikir dalam hati meredam semua amarah dan sesal yang timbul dalam diri.
Malam semakin larut, tubuh yang lelah mata yang kantuk membawa angan melambung. Sejenak semua jilang, dibawa mimpi-mimpi keindahan. Dalam mimpinya tertanam sebuah harapan kembalinya anak-anak yang sangat di cintainya.
Ayam jantan memamerkan suaranya di subuh  yang basah. Suara azan membisik di telinga, terbuka perlahan mata yang lelap bergerak sendi-sendi tubuh yang lemas. Terbangun dari yang singkat. Sangat susah untuk bangun, susah bergerak tubuh yang renta merayap di dinding yang lapuk, tertatih-tatih menuju tempat wudhu. Dengan usaha yang keras akhirnya berhasil.
Di atas sajadah yang usam segala do’a terucap memohon, merintih, berharap dalam do’a anak-anaknya kembali. Ayat demi ayat terlantun dengan suara seraknya terasa piluu terdengar.
Hari semakin terang, mentari telah terbit di timur menerangi seluruh jagad yang gelap. Masih bersimpuh di atas sajadah usam dengan tasbih di tangan. Terdengar samar-samar ketukan di depan rumah, ada yang memanggil. Dengan segera terbangun menuju pintu. Seketika suasana berubah, seperti  sebuah keajaiban besar terjadi. Segala harap, semua do’a-do’a terwujud. Anak-anak yang selalma ini dirindukannya berdiri di depan pintu, seketika haru biru suasana pagi itu.
Semua rasa bercampur saat itu, senang, haru, bingung, percaya tak percaya. Memandang satu persatu-satu anak-anaknya yang sudah sangat lama tidak di lihatnya. Anak-anaknya bersimpuh di kakinya memohon ampunann dan membawa kabar yang gembira mereka telah menjadi orang yang sukses.
Gubuk reok yang sudah tidak layak huni berubah menjadi istana. Akhirnya bahagia yang selama ini hanya ada dalam mimpinya kini menjadi sebuah kenyataan. Sekarang tidak lagi kesepian, tidak lagihenya di temani lampu minyak yang selalu mati ditiup angin.
Kebahgian demi kebahagiaan berlalu, lahir, muda, tua dan akhirnya kembali pada sang pencipta. Singkat rasanya, tubuh yang lelah menikmati keibahagiaan yang datang tiba-tiba ini. Kini harus istirahat untuk selama-lamanya. Semua telah dilalui, air mata adalah teman, senyum adalah kekuatan yang membantu. Semuanya sudah berlalu, semuanya akan menjadi kenangan terindah dan tidak ajkan kembali. Kini semua kesal dan amarah telah terkubur dalam-dalam. Semoga tuhannya membalas semua kebaikan dengan surga-Nya yang air sungai mengalir di bawahnya dengan hembusan angin-angin kesejukan. Abadilah cinta, abadi lah kasih sayang. Cinta seorang ibu yang tulus, dan kasih sayang ibu yang penuh dengann ke iklasan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar